Proyek pembangunan rehabilitasi Satuan Pendidikan di TK Pembina Kalaena, Kecamatan Kalaena, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mendapat sorotan dari sejumlah warga.
Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 tersebut dipersoalkan warga terkait dugaan ketidaksesuaian penggunaan material dalam proses pengerjaannya.
Berdasarkan papan informasi yang terpasang di lokasi, kegiatan tersebut merupakan program “Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan” di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pekerjaan dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan nilai bantuan sebesar Rp399.261.000 dan waktu pelaksanaan selama 90 hari kalender, terhitung sejak 5 Agustus 2026.
Sorotan warga muncul setelah mereka melakukan pengamatan terhadap proses pembangunan di lokasi. Salah seorang warga Kalaena yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku menemukan hal yang dinilai perlu mendapat penjelasan dari pihak pelaksana.
“Kami memantau proyek yang sedang berjalan dan melihat ada kejanggalan. Di bagian konstruksi, besi behel yang digunakan terlihat dicampur. Ada penggunaan besi 6 mm dan besi 8 mm dalam struktur yang sama. Kami khawatir hal tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan,” ungkapnya.
Namun, penggunaan diameter besi yang berbeda tersebut masih memerlukan pemeriksaan teknis untuk memastikan kesesuaiannya dengan gambar kerja, spesifikasi teknis, maupun ketentuan konstruksi yang berlaku.
Selain persoalan besi, warga juga mempertanyakan asal-usul material berupa pasir dan batu yang digunakan dalam pekerjaan.
“Kami menduga material pasir atau batu yang digunakan diambil langsung dari Sungai Kalaena. Karena itu kami meminta pihak terkait memastikan apakah sumber material tersebut memiliki legalitas dan memenuhi ketentuan yang berlaku,” katanya.
Warga mengaku telah berupaya meminta klarifikasi langsung kepada pihak sekolah. Namun, menurut sumber tersebut, upaya menemui Kepala Sekolah TK Pembina Kalaena belum mendapatkan penjelasan.
Kepala Sekolah Berikan Klarifikasi
Kepala Sekolah TK Pembina Kalaena, Andriani, memberikan penjelasan terkait sorotan penggunaan besi dengan diameter berbeda tersebut.
Ia membenarkan bahwa dalam proses pengerjaan sempat terdapat penggunaan tiga batang besi ukuran 6 mm pada bagian konstruksi yang dipersoalkan.
Menurut Andriani, penggunaan besi tersebut terjadi karena pada saat pemasangan, pihak tukang mengalami kekurangan material besi ukuran 8 mm.
“Memang ada besi 6 yang digunakan sebanyak tiga batang. Alasannya karena tukang kekurangan besi pada waktu pemasangan,” jelas Andriani saat dikonfirmasi melalui telepon via whatsapp. Rabu (16/9/2026).
Andriani menegaskan bahwa penggunaan besi tersebut kemudian telah diperbaiki. Material yang sebelumnya menggunakan besi ukuran 6 mm disebut telah dibongkar dan diganti dengan besi ukuran 8 mm.
“Sudah dibongkar, Pak. Kami sudah ganti dengan besi 8,” terangnya.
Klarifikasi tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan informasi mengenai material yang digunakan pada proyek tersebut tidak hanya bersumber dari pengamatan warga, tetapi juga mempertimbangkan penjelasan pihak sekolah sebagai pihak yang berada di lokasi pelaksanaan kegiatan.
Meski telah mendapat klarifikasi mengenai penggunaan besi, warga tetap meminta pengawasan terhadap proyek tersebut dilakukan secara menyeluruh. Mereka berharap seluruh material dan tahapan pekerjaan diperiksa agar pembangunan fasilitas pendidikan tersebut berjalan sesuai spesifikasi dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Warga juga meminta agar asal-usul material seperti pasir dan batu yang digunakan dalam pekerjaan turut diperiksa, termasuk memastikan sumber material tersebut memiliki legalitas dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Ini adalah uang negara,”singkat warga.(*)













