Menjadi guru kelas 1 sekolah dasar bukanlah tugas yang sederhana. Di balik wajah polos dan tingkah lugu anak-anak, terdapat tantangan sekaligus kebahagiaan yang membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan kasih sayang.
Hal itulah yang selama ini dijalani Salamah, S.Pd., seorang guru yang telah mengabdikan dirinya mengajar peserta didik kelas 1 sejak diangkat sebagai guru pada tahun 2008 hingga sekarang.
Salamah lahir di Wotu pada 16 November 1971. Ia merupakan lulusan PGSD Universitas Negeri Makassar (UNM), Sulawesi Selatan. Dalam perjalanan pengabdiannya, ia pertama kali mengajar di SDN 176 Kayaa, sebelum kemudian dimutasi ke SDN 190 Tadulako. Di sekolah tersebut, Salamah telah mengajar selama sekitar tiga tahun.
Baginya, kelas 1 memiliki keunikan tersendiri. Anak-anak yang baru memasuki dunia sekolah dasar memiliki karakter, kemampuan, serta cara belajar yang berbeda-beda.
“Saya senang mengajar di kelas satu karena peserta didiknya unik. Mereka senang diajak belajar sambil bermain,” ungkap Salamah.

Saat ini, Salamah mengajar 12 orang siswa kelas 1, terdiri dari 7 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Menurutnya, jumlah tersebut tergolong sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menikmati Kepolosan Anak-Anak.
Mengajar kelas 1 SD memberikan pengalaman yang penuh warna. Di satu sisi, guru dituntut memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi berbagai karakter anak. Namun di sisi lain, terdapat banyak momen sederhana yang justru memberikan kebahagiaan tersendiri.
Salamah mengaku senang melihat kepolosan dan kejujuran anak-anak kelas 1. Komentar, pertanyaan, hingga ekspresi mereka biasanya muncul secara spontan dan apa adanya.
Kedekatan emosional pun relatif mudah terbangun. Dengan kasih sayang dan perhatian, anak-anak dapat dengan cepat merasa nyaman bersama gurunya.
Hal yang paling memberikan kepuasan baginya adalah ketika melihat perkembangan kemampuan peserta didik, khususnya dalam kemampuan membaca dan berhitung dasar.
Setiap kemajuan kecil yang dicapai seorang siswa menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru.
Semangat dan tawa anak-anak juga menjadi energi positif bagi Salamah dalam menjalankan tugasnya setiap hari.
Tantangan Mengajar Anak Kelas 1.
Meski penuh kebahagiaan, mengajar kelas 1 juga memiliki tantangan tersendiri.
Rentang fokus anak yang masih pendek membuat mereka mudah terdistraksi dan cepat merasa bosan ketika pembelajaran berlangsung terlalu lama.
Selain itu, dinamika emosi juga cukup tinggi. Tangisan, saling berebut barang, hingga mengambek merupakan bagian dari keseharian yang harus dihadapi guru.
Tingkat kemandirian peserta didik pun masih beragam. Sebagian anak belum terbiasa merapikan alat tulis dan perlengkapan belajarnya sendiri.
Perbedaan kesiapan belajar juga menjadi tantangan. Ada anak yang sudah memiliki kemampuan dasar membaca dan berhitung, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Bagi Salamah, kondisi tersebut bukanlah alasan untuk menyerah. Justru di situlah peran guru diperlukan untuk memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda.
Belajar Sambil Bermain Jadi Strategi.
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, Salamah memiliki sejumlah cara sederhana yang menurutnya cukup efektif diterapkan di kelas.
Salah satunya adalah metode bermain. Materi pembelajaran diselingi dengan kegiatan bernyanyi, permainan edukatif, maupun aktivitas sederhana yang membuat anak tetap merasa senang selama proses belajar.
Selain itu, kesabaran ekstra menjadi kunci. Penjelasan harus diberikan secara berulang dan konsisten tanpa terburu-buru, karena setiap anak memiliki kecepatan belajar yang berbeda.
Salamah juga menerapkan apresiasi kecil kepada peserta didik. Pujian, perhatian, maupun pemberian stiker sederhana dapat menjadi motivasi bagi anak untuk semakin bersemangat dalam mengikuti pembelajaran.
Baginya, menjadi guru kelas 1 bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, guru juga memiliki peran penting dalam membangun rasa percaya diri, kemandirian, kebiasaan baik, serta kecintaan anak terhadap sekolah dan belajar.
Salamah percaya, setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Karena itu, mereka tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama.
“Setiap anak itu unik. Tugas kita sebagai guru adalah mengenal mereka, memahami karakter mereka, kemudian membantu mereka berkembang sesuai dengan kemampuannya,” demikian semangat yang terus dipegang Salamah dalam menjalankan pengabdiannya.
Dari ruang kelas kecil dengan anak-anak yang polos, seorang guru seperti Salamah terus menanamkan fondasi pendidikan. Sebab, dari tangan guru kelas 1-lah perjalanan panjang seorang anak dalam mengenal dunia pendidikan dimulai.(*)













