Rusdi Layong Apresiasi Sinergi Aparat Berantas Illegal Fishing Di Danau Towuti: Selamatkan Warisan Alam Luwu Timur

  • Bagikan

Anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur, Rusdi Layong, ST, memberikan apresiasi atas sinergi berbagai pihak dalam memperkuat penanganan praktik illegal fishing di Danau Towuti. Menurutnya, kolaborasi lintas instansi tersebut menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian salah satu kekayaan alam terbesar yang dimiliki Kabupaten Luwu Timur.

Rusdi menilai, penanganan illegal fishing kini menunjukkan kemajuan yang signifikan. Jika sebelumnya lebih banyak mengedepankan pendekatan persuasif dan edukasi kepada masyarakat, kini telah memasuki tahap penegakan hukum yang lebih tegas dan konkret terhadap pelaku yang masih menggunakan alat tangkap terlarang.

“Saya memberikan apresiasi kepada seluruh aparat penegak hukum dan instansi terkait yang telah membangun sinergi dalam memberantas praktik illegal fishing di Danau Towuti. Ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk melindungi sumber daya alam dan menjaga keberlangsungan ekosistem yang menjadi kebanggaan Luwu Timur,” ujar Rusdi. Selasa, 07/07/2026

Politisi Partai Gelora itu menegaskan, penggunaan alat tangkap seperti setrum listrik, racun, maupun metode destruktif lainnya tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam kelestarian ekosistem dan masa depan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sektor perikanan.

“Penindakan harus dilakukan secara konsisten. Tidak boleh ada toleransi terhadap praktik yang merusak lingkungan. Danau Towuti bukan hanya milik masyarakat hari ini, tetapi merupakan warisan yang harus kita jaga untuk anak cucu kita,” tegasnya.

Rusdi mengingatkan bahwa Danau Towuti merupakan salah satu danau purba tertua di Indonesia yang memiliki nilai ekologis sangat tinggi. Danau ini menjadi habitat berbagai spesies ikan dan biota endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

“Keunikan Danau Towuti adalah kekayaan biodiversitasnya. Jika habitatnya rusak akibat penggunaan setrum atau racun, maka kita berisiko kehilangan spesies endemik yang tidak akan pernah bisa digantikan. Kerugian seperti ini bersifat permanen,” katanya.

Menurut Rusdi, upaya pelestarian Danau Towuti tidak cukup hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, tokoh adat, kelompok nelayan, akademisi, hingga organisasi lingkungan untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga kawasan danau.

“Kita harus membangun budaya menjaga lingkungan. Penegakan hukum memang penting, tetapi edukasi dan kesadaran masyarakat juga menjadi kunci agar praktik illegal fishing benar-benar dapat dihentikan,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar pengawasan di kawasan Danau Towuti dilakukan secara berkelanjutan, disertai pembinaan kepada masyarakat mengenai penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan.

“Semoga sinergi yang telah terbangun ini terus diperkuat sehingga Danau Towuti tetap lestari, sumber daya ikannya terjaga, dan manfaatnya dapat dinikmati oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Menjaga Danau Towuti berarti menjaga masa depan Luwu Timur,” tutup Rusdi Layong.(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *